Cerita Di Balik Kenapa Saya Ketagihan Naik Kereta

Salah satu doa saya waktu kecil adalah, “Ya Allah, izinkan saya naik kereta api, ya.” Hihi.. retjeh banget ya doanya. Jujur, walaupun tinggal di pulau Jawa yang notabene memiliki stasiun kereta api di setiap kota, nyatanya doa itu baru terkabul saat saya menjelang menikah. Duhh! Waktu itu bahkan saya sudah lupa jika pernah meminta pada-Nya. Dan tahu tidak bagaimana kesan saya saat naik kereta pertama kali? Tidak menarik, mengecewakan bahkan jika tidak bisa dibilang kapok nggak mau naik lagi.

Ceritanya saya pergi ke salah satu keluarga untuk silaturahmi sekaligus membicarakan rencana pernikahan. Sebenarnya pengen sih naik kendaraan lain tapi mengingat kondisi kantong yang kudu pengiritan, maklum biaya nikah nggak murah, akhirnya saya memilih kereta kelas ekonomi dan berangkat menjelang hari raya idul fitri. Jadi bisa dibayangkan lah bagaimana suasananya kira-kira belasan tahun yang lalu itu.

Suasana sumpek, panas dan berdesak-desakan sukses bikin saya ilfil berat. Beberapa kali saya bahkan mendapati korban copet dan perempuan yang menjadi korban pelecehan di kereta. Belum lagi kehadiran pengamen yang wira-wiri sepanjang gerbong lebih terasa seperti penodong daripada orang cari duit. Ada juga penjual asongan yang memandang kita dengan pandangan mata loe-harus-beli –kalo-tidak… Duh, kayaknya saya nggak bakalan naik kereta lagi.

Entahlah apa mungkin karena waktu itu saya memilih kelas ekonomi? Bisa juga kan pengalamannya jadi berbeda jika seandainya saya memilih kelas eksekutif. Haha.. entahlah. Pulangnya lebih baik ganti haluan naik bis saja lah.

Dan kejadian itu pun berlalu dari memori.

Hingga suatu hari ada acara yang harus saya hadiri di Jakarta. Awalnya mau pesen tiket pesawat kok jadwalnya nggak ada yang pas. Kalo dipaksakan naik pesawat bisa-bisa malah telat karena jam keberangkatan yang gak sesuai. Kalaupun ada yang pas jamnya eh, tiketnya udah sold out. Akhirnya mau nggak mau coba cek jadwal keberangkatan pake kereta api. Ngeceknya juga agak nggak semangat gitu sih, mengingat pengalaman sebelumnya yang yaaa begitulaaah…

stasiun, kereta api

Dan akhirnya taraaaa… sekarang saya sudah di stasiun. Siang itu, saya berencana langsung memesan tiket. Antrian yang sangat panjang sukses bikin saya ngantuk dan memutuskan pulang saja untuk kembali lagi nanti. Saat akan melewati pintu keluar, seorang satpam menyarankan beli di Indomaret saja daripada balik ke stasiun. Whattt? Ternyata beli tiket lewat indomaret pun bisa. Ya ampuuuun, kemana aja saya?

Sorenya saya ke Indomaret terdekat untuk memesan tiket kereta. See! Di luar dugaan proses pemesanan berlangsung cepat dan anti ribet. Dengan hanya berbekal KTP, kita cukup mengetikkan nama tempat stasiun pemberangkatan dan stasiun tujuan akhir lewat sebuah komputer layar sentuh. Jangan lupa tanggal dan kelas kereta yang dipilih. Nama harus sesuai KTP nya gaess. Nah, kita nanti dapat print out atau  kupon untuk ditukarkan lagi dengan tiket di stasiun.

Prosesnya nggak nyampe 10 menit, speechless sayyah! Proses penukaran tiket di stasiun pun nggak ribet. Kita tinggal memasukkan kode yang ada di lembaran kupon dan voilaa … tiket siap membawa kita berpetualangan bersama Thomas and friends.

Transportasi udah canggih begini dan saya saya baru tahu? Omaygot. Tetiba jadi ngerasa kayak baru keluar dari zaman batu. Isin, Rek!

Waktu itu saya pergi sendirian, suer ini pertama kalinya saya solo traveling jarak jauh tanpa didampingi siapapun. Sempat merasa agak ketir-ketir juga mengingat pengalaman naik kereta pertama kali yang tidak menyenangkan. Kemudahan mendapatkan tiket tidak menjamin perjalanan juga akan menjadi mudah juga, kan? Apalagi ketika melihat jadwal tiba, kereta baru nyampe Pasar Senen jam 2 dini hari. Fiuhh!

Duhh, di sana nanti gimana ya? Saya gak bisa bayangin ada cewek tjanteek cem sayyah (uhuk) bawa ransel malam-malam berkeliaran sendirian. But, the show must go on. Acara nggak mungkin dibatalkan, mau nggak mau saya harus pergi.

kereta api, stasiun
cafe stasiun kereta api

 

Saya nggak punya saudara atau teman buat numpang tidur, mau pesen hotel atau penginapan juga nanggung karena acaranya tinggal nunggu beberapa jam lagi. Saya mikirnya gini, ah gampanglah kalo misal jam 2 pagi nyampe bisa nunggu di Masjid dulu. Toh bentar lagi waktunya subuh. Abis sholat subuh bisa jalan-jalan dulu ke Pasar Senen cari sarapan sama beli oleh-oleh. Sip!

Setidaknya saya siap mengantisipasi segala keadaan yang akan membuat saya ‘menderita’ selama perjalanan nantinya. Lebih baik low expectation dan bersikap waspada, meski nggak sampai paranoid. Apalagi tiket yang saya pesan (lagi-lagi) kelas ekonomi jadi memang wajar dong kalo saya agak underestimate gini.

Eh, nyatanya lagi-lagi saya salah.

Pengen tepok jidat sambil tutup muka pake daster kalo begini.

Begitu masuk kereta dan ambil tempat duduk, swinggg saya langsung disambut udara ber AC. Hemmm…

Suejukk…

Tempat duduk yang nyaman dengan (horeee nemu) colokan listrik dekat jendela. Eh, saya sempat disuruh pindah sih sama ibu-ibu gitu gegara ternyata nomor bangku yang nggak sesuai tiket. Ya emang salah saya juga sih, nggak ngeliat nomor langsung duduk aja. Lagian jaman dulu naik kereta nggak pake nomer-nomeran. Sistemnya siapa cepat dia dapat. Lha wong kadang dapat tiket aja nggak dapat tempat duduk kok. Hihi..

Anywey, buswey, saya tetiba jadi merasa bersalah udah underestimate banget sama nih transportasi. Ternyata nggak ada yang namanya rebutan kursi kayak zaman baehula, Sodara-sodara. Apalagi waktu liat toiletnya, yeah, jauhlah kalo dibandingkan jaman dulu. Lebih nyaman.

Tut..tut.. kereta mulai berjalan. Saya menghela nafas sejenak. Duhh, berasa kayak di film-film, melihat pohon-pohon yang berjalan mundur. Pelan-pelan lalu lama-lama bertambah cepat gerakannya. Bismillah.. ini akan menjadi salah satu perjalanan yang lama dan (semoga saja) menyenangkan.

Perjalanan pun dimulai, tetiba ada petugas kereta didampingi petugas keamanan masuk ke dalam gerbong untuk memeriksa tiket penumpang. Melihat sistem keamanan yang kayak gini kayaknya gak bakalan ada yang namanya penumpang gelap. Ohya, nggak ada ceritanya pengamen atau pedagang asongan mondar-mandir di depan mata. Cewek tjanteek cem sayyah naik sendirian di malam hari jadi merasa aman dan nyaman. Dan satu lagi! Tidak ada asap rokok! Omaygot, ini bener-bener kereeen. Sepertinya saya mulai menyukai perjalanan kereta kali ini.

Pemandangan sawah hijau dan jejeran pepohonan di luar jendela benar-benar memanjakan mata. Beberapa kali saya tersenyum melihat anak-anak usia sekolah bertelanjang dada berlarian mengejar bola plastik lalu menyepaknya ramai-ramai.

kereta api, stasiun
kereta api, stasiun

Namun duduk seharian akhirnya mampu membuat siapapun merasa jenuh dan punggung pegal. Untunglah ada café jadi saya bisa pesen kopi sambil bersantai sejenak. Whatt? Ada café di dalam kereta? Hihi.. lagi-lagi saya kok jadi ngerasa baru keluar dari gua.

Kalo kamu nggak pengen jalan ke cafenya masih ada kok petugas yang keliling jualan nasi box, kopi dan kue-kue kecil. Cuma nasinya agak mahal, sih. Per box kena IDR 30,000 tapi ya worth it lah sama pelayanannya. Lha kalo pengen ngirit mending bawa bekal dari rumah aja deh kayaknya.

Nah, setelah berjam-jam lamanya di perjalanan, melewati stasiun demi stasiun, akhirnya tibalah saya di Pasar Senen jam 2 dini hari. Duh, ini Jakarta, Men. Segala sesuatu bisa aja terjadi. Tetap waspada dan hati-hati apalagi suasana malam hari. Alhamdullilah, stasiun tetap ramai walau tengah malam. Mungkin karena ini emang stasiun besar kali ya jadi nggak ada ada sepinya.

Sambil nunggu adzan subuh saya ngobrol lagi dengan sesama penunggu lainnya. Menyenangkan karena saya mendapat banyak info tentang destinasi-destinasi baru yang kudu dikunjungi. Kayaknya suatu saat saya kudu naik kereta lagi nih. Jadi ketagihan ya. Padahal sebelumnya udah antipati nggak mau naik kereta.

Ehmm, makanya nggak heran sekarang banyak orang yang lebih suka naik kereta api dibanding armada lainnya. Lha nyaman begini. Iseng-iseng saya buka web di http://dephub.go.id ternyata emang lima tahun ini dinas perhubungan lagi kenceng-kencengnya bikin program keren biar kita nyaman naik transportasi umum. Jadi salut sama dinas perhubungan. Di tengah maraknya demo dan berita-berita yang nggak mengenakkan, ada info kayak gini rasanya jadi ademmm gitu.

Akhirnya karena penasaran saya buka-buka tuh semua medsosnya mulai dari twitternya di https://twitter.com/kemenhub151 lalu facebooknya https://www.facebook.com/kemenhub151 sampai instagramnya saya kepoin juga di https://www.instagram.com/kemenhub151.  Semoga dinas perhubungan semakin Berjaya dan mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat umum. Salut deh.

Gegara itu semakin hari semakin banyak temen traveller yang nyaranin naik kereta api. Udah murah, nyaman dan aman lagi. Makanya kalo pas pengen liburan naik kereta api kudu pesen tiket jauh-jauh hari deh biar nggak kehabisan. Lha wong di hari biasa aja sering kehabisan apalagi musim libur. Malah kalo bisa nih naik keretanya pas hari biasa aja, jangan hari libur biar bisa menikmati perjalanan dengan lebih santai dan nyaman.

Perjalanan naik kereta adalah perjalanan yang panjang. Jangan lupa siapkan obat pribadi, camilan, buku dan gadget untuk menemani kisah travelingmu. Pasang alarm tingkat tinggi siapa tahu kamu bisa ketemu jodohmu di kereta, Mbloo. Hihi..

1 thought on “Cerita Di Balik Kenapa Saya Ketagihan Naik Kereta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.