Pendidikan Informal Buat Yang Suka Belajar Tapi Gak Suka Sekolah

Banyak anak suka belajar tapi benci sekolah. Terus terang sebagai seorang guru, gemes saya mikirnya!

Hai, Mak. Udah selesai nganter sekolah pagi ini? Ngobrol dulu, yuk! Akhir-akhir ini saya dan suami tertarik dengan model sekolah informal. Lalu kami cari info kemana-mana. Yeah, sebagai orang tua kita harus membuka mata bahwa ternyata era pendidikan telah berubah sedemikian rupa.  Sekarang bukan jamannya anak tiap hari berangkat sekolah, abis semester rapotan, trus naik kelas. Semua apa kata sekolah, semua apa guru. Lanjut kuliah dapat kerja enak. Beres.

Sejatinya pendidikan adalah sebuah upaya pembelajaran tanpa henti. Long life education istilah kerennya. Mulai kita masih jadi janin sampai ke liang lihat, baru deh berenti belajarnya.

Seringkali orang tua merasa paling tahu apa kebutuhan anak daripada anak itu sendiri. Namun ternyata tidak sesederhana itu. Anak-anak berhak dilibatkan dalam menentukan pendidikan seperti apakah yang mereka inginkan. Artinya kita memperlakukan mereka sebagai subyek, bukan lagi obyek pasif yang harus menurut pada orang tua. Seakan-akan orang tua tahu segalanya.

Cek lagi deh, salah satu tujuan pendidikan jangka panjang punya UNESCO, tugas utama pendidikan adalah untuk mengajarkan anak-anak agar bisa hidup bersama. Caranya dengan mengajarkan bahwa perbedaan adalah hal yang biasa. Tahu, kan sekarang ini banyak sekali perselisihan hanya karena perbedaan yang kadang pemicunya sepele banget.

Saya kadang nih suka sebel liat debat-debat di televisi, itu orang kan pendidikan tinggi-tinggi kok ya pada eyel-eyelan, napa ya? Jangan bilang itu orang pendidikannya nggak berhasil lho ya, lha wong titelnya panjang-panjang dan nggak jarang lulusan luar negeri juga kok. Skip.

Ok, seringkali kita berpikir bahwa pendidikan formal adalah segalanya. Dengan alasan ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak, banyak orang tua rela merogoh kocek mahal berburu sekolah favorit. Tidak salah sih konsep ini, tetapi juga tidak seratus persen benar.

Saya nih sering diskusi sama suami tentang sekolah ideal. Dan ujung-ujungnya mesti kecewa dengan sistem sekolah formal di Indonesia. Padahal kami berdua berprofesi sebagai guru, lho. Kami sadar, ilmu yang terbaik kadang tidak di dapat di bangku sekolah.

pendidikan informal

Saya aja sampai sekarang masih suka bingung, buat apa kita belajar semua hal, coba? Mengapa kita tidak boleh belajar ilmu yang hanya kita inginkan atau butuhkan saja? Di sekolah anak-anak dipaksa menerima satu paket pembelajaran terlepas mereka butuh atau tidak.

Anak-anak yang kinestetik mungkin lebih butuh pelajaran olahraga, tanpa harus pusing-pusing menghafal rumus kimia. Anak yang suka mengutak-atik angka, tidak perlu  mengikuti pelajaran mengarang jika mereka tidak suka. Pada akhirnya tidak semua konsep matematika kita pakai, kecuali tambah, kurang, kali dan bagi. Banyak dari mereka yang lebih suka memilih dunia musik daripada menjadi dosen atau guru, menjadi pelukis, sinematografi atau blogger daripada kerja di BUMN. Ha..ha..

Eh, sambil ngetik ini, saya lagi milih-milih bahan penunjang pengajaran buat ngajar besok di iprice. Saya baru tahu nih kalo ada e-commerce kece begini. Kadang harganya lebih murah dari toko fisik, lho.

Balik ke topik. Saya selalu berpikir, bagaimana jadinya jika sejak awal anak-anak sudah tahu apa mimpi mereka, keinginan mereka, passion mereka. Lalu diajak terlibat bersama orang tua dalam menentukan masa depan mereka kelak. Berdiskusi tentang sistem sekolah yang ideal, lalu sama-sama mencari solusi yang terbaik. Anak adalah subyek pendidikan, sementara orang tua berperan sebagai guiding, pengarah dan pendorong agar anak bisa bertanggung jawab terhadap pilihan hidupnya.

Bukankah mereka lahir dari generasi yang berbeda? Mereka terhubung dengan dunia tak terbatas. Ilmu tidak hanya melulu di dapat dari sekolah formal, bahkan anak-anak lebih paham hal ini. Era di mana guru dan orang tua bukan lagi pusat informasi yang utama. Jika mereka tidak mendapatkan informasi dari kita maka mereka akan mencarinya di tempat lain.

Masih sering reunian, Mak? Sampai sekarang saya masih berkomunikasi dengan teman-teman sekolah dan kuliah dulu. Yang dibicarakan biasanya tidak jauh-jauh dari mengenang masa lalu dan rencana masa depan. Ha..ha..

Nah, dari bincang-bincang itu ketemu fakta bahwa banyak lho dari mereka yang ternyata nggak enjoy dengan pekerjaannya. Mereka seperti terjebak keadaan, ingin keluar tapi tidak mudah meninggalkan zona nyaman.  Wah..wah..  ada juga sih yang enjoy dengan pekerjaannya tapi nggak sesuai dengan ijazahnya. Saya  jadi mikir nih, what’s wrong with this? Eh, jangan-jangan, Emak juga salah satunya, ya? He..he..

Seandainya anak-anak menemukan bakatnya sejak kecil lalu menekuninya, lama-kelamaan bisa jadi professional, dong. Dengan hanya fokus pada bakat dan minat saja, mereka jadi punya banyak waktu untuk mengeksplor kemampuannya. Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan belajar sesuatu yang tidak kita butuhkan.

Saya nih setuju banget kalo ada yang bilang, lebih baik tahu sedikit tapi banyak daripada tahu banyak tapi sedikit-sedikit. Be professional.“Seorang ahli bahasa tidak selalu bisa menggambar. Pun seorang pelukis tidak harus ahli matematika. Dengan menjadi ahli di bidang yang kita geluti, maka di situlah seseorang akan memancarkan ‘sinar’nya.

Nah, masalahnya sistem pendidikan kita nih terkadang suka maksa. Maunya semua dikasih ke otak anak. Dijejalin gitulah tanpa mau tahu si anak ini potensinya di mana. Walaupun anak memiliki kemampuan belajar yang mengagumkan, otaknya tetap memiliki memori yang terbatas. Nah, berangkat dari fakta ini, pendidikan informal memegang peranan yang penting dalam mengisi kekurangan yang tidak bisa diberikan pendidikan formal pada umumnya.

Sebenarnya pendidikan informal itu apa, sih?  Googling aja, Mak. Banyak kok. Saya nggak akan membahas panjang lebar tentang pendidikan informal karena udah banyak berseliweran di mana-mana. Takut nyepam. Tapi intinya, proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dengan mempertimbangkan anak sebagai seorang individu yang unik.

Belajar informal dilakukan secara mandiri, bisa di rumah atau di lembaga yang memang memiliki kewenangan untuk melaksanakan pendidikan informal. Tapi ingat ya, yang namanya pendidikan itu tanggung jawab keluarga, jadi maksudnya bukan mindahin sekolah ke rumah. Itu sekolah privat namanya. Proses pendidikan informal terjadi ketika orang tua benar-benar terjun langsung mendidik anaknya, dalam artian tidak menyerahkan urusan pendidikan kepada lembaga sekolah semata.

Nah, seringkali orang tua khawatir akan masa depan anak jika tidak sekolah umum seperti lainnya. Banyak yang tidak paham bahwa  hasil pendidikan informal juga mendapatkan pengakuan yang sama seperti halnya pendidikan formal. Lulusannya juga berhak mendapatkan ijazah setelah lulus ujian sesuai standar nasional pendidikan dari pemerintah.

Orang tua berperan utama dalam memotivasi anak agar mampu mengembangkan potensi atau bakat yang dimilikinya. Dengan begitu, anak akan merasa terbantu  agar lebih mandiri dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Artinya, orang tua akan selalu terlibat dalam proses pembelajaran seorang anak sepanjang hidupnya.

Penting sekali sejak awal menentukan apa sih tujuan dan hasil yang kita inginkan dari kegiatan belajar itu? Memikirkan konsep apa saja yang bisa kita kembangkan, kemudian merancang kegiatan apa saja yang bisa kita lakukan untuk mencapai hasil yang diinginkan tersebut. Ini berarti kita sendirilah yang menentukan kurikulum, bahan ajar,  termasuk waktu yang optimal sesuai dengan kondisi setiap individu. Ah, udah banyak kok yang nulis hal ini. Googling aja, lah.

Nah, yang namanya belajar itu pasti kita butuh bahan penunjang, ya Mak. sekarang mah gampang, kalo butuh alat-alat penunjang, seperti beli kuas melukis, buku gambar, dan peralatan menulis bisa kok lewat iprice . Di sini udah banyak kok e-commerce yang bekerjasama, jadi kita bisa bandingin harga, tinggal pilih yang cocok, klik gambar. Beres dah. Semudah itu, Mak.

So, menjelang hari pendidikan nasional ini, semoga semua anak di Indonesia mendapatkan pendidikan yang terbaik.

 

 

26 thoughts on “Pendidikan Informal Buat Yang Suka Belajar Tapi Gak Suka Sekolah

  1. aku belum punya anak sih, tapi temenku ada yang akhirnya memutuskan buat homeschooling dan ngajar anaknya sendiri. jujur, aku malah impressed sama dia yang bikin lesson plans sendiri dengan berbagai macam ide dan info terbaru yang dipelajari. dia sesekali juga share lesson plan-nya di fesbuk, dan aku ikut seneng bacanya karena aku juga jadi nambah2 ilmu baru yang ga aku dapet di sekolah.

    kebetulan, ade aku juga tipe yang suka belajar tapi gak suka sekolah jaman dulunya. makanya kuliah dia berantakan, tapi mungkin karena pada dasarnya dia doyan belajar, soft skill dia malah lebih bagus daripada orang2 seangkatan dia yang kuliah dan pernah kerja sama aku. makanya, aku pun bukan tipe yang terlalu memprioritaskan pendidikan formal sih sekarang2 ini. 🙂

  2. Wah bisa jadi alternatif juga sih kalo si anak nggak suka ke sekolah tapi harus tetap belajar. Tapi memang harus cari solusi yang tepat sih yaa teh biar sesuai goal nantinya. But, nice sharing teh.

  3. Pendidikan seakan dipaksakan. Contohnya di sekolah tempat kami mengajar. Mengikuti kurikulum 2013. Padahal kondisi di kampung sini jelas beda sama sekolah di kota. Gada internet di sekolah sementara pelajaran TIK nilai anak kudu maksimal. Ga ada sarana dan prasarana tapi nilai olahraga, praktek SBK dll jangan kalah dg anak kita. Terus waktu belajar juga. Di kota banyak angkot dll, lah disini anak datang ke sekolah aja udah beruntung, secara jarak sampai belasan km dan mereka jalan kaki!
    Pemerintah harusnya melihat kondisi kami di desa, tidak pantas menganggap sama rata dg kondisi sekolah di kota

  4. Konsep pendidikan yg kena menurutku sih yg membahagiakan. sbg org tua jgn sampe kita melupakan hak anak utk main dan bahagia juga sehingga belajar jd bukan hal yg ditakuti dan dihindari ya

  5. Setuju, tidak ada batasan seseorang untuk belajar. Punya anak yang masih kecil dari sekarang saya suka membayangkan gimana kelak dia kalau sudah sekolah apakah menyenangkan atau tidak, melihat dunia pendidikan sekarang berat banget kurikulumnya.

  6. Pelik sih urusan pendidikan begini ya Mba. Ayah saya pun sebagai tenaga pengajar pun merasakan pelik yang sama. Diantara tuntutan yang banyak dari sekolah formal pada anak, sementara nggak ssmua hal yang diberikan membuat anak suka. Sementara nilai seolah menjadi titik ukur.

    Memang peran orangtua yang lebih banyak akhirnya menjadi pilihan yang nggak bisa tergantikan.

    Betapa jadi orangtua menuntut kita untuk lebih banyak belajar terus ya.

  7. Memang benar, Mbak. segala sesuatu tidak didapat di bangku sekolah, bahkan dari luar sekolah juga. Termasuk misalnya pengalaman-pengalaman berharga. Hanya kadang masih banyak masyarat memandang lurus satu hal. Misalnya yang sekolah ya harus di gednung sekolah. Sedang yang homeschooling masih dianggap aneh. Salah satunya dianggap tidak bergaul.

  8. Haha iya mba kadang saya juga berpikir demikian, knp semua hrs dipelajari bukan yang dibutuhkan saja. Yang suka olahraga kenapa harus belajar kimia dan lain-lain haha.

  9. Masalahnya masyarakat kita masih berpola ASN lebih aman untuk masa depan mbak.
    Nah, kalo seperti itu pasti butuh ijasah kan ya? Dan sepertinya tetap butuh sekolah formal.
    Hehe maafkan jika saya salah kata.

    Menurut saya, jika sistem pendidikan kita sering digonta-ganti, kasihan pendidik, anak didik dan orang tua.
    Dan saya sebagai orang tua, termasuk sering kebingungan juga dengan pergantian sistem pendidikan berdasarkan konsep baru dari menteri terbaru.

  10. Betul juga ya mba. Pengembangan bakat anak sejatinya lebih penting sih, meskipun ga dipungkiri ilmu ilmu di sekolah tentu di kemudian hari ada manfaatnya hehe. Jadi keingetan dulu suka ditanya utk apa belajar n A tematik, lilin, integral, dsb. Saya jawab untuk hidup hehe later we’ll be understand

  11. Pengalaman saya yang bikin anak-anak malas pendidikan formal adalah sistem belajar mengajar di sekolah. Waktu SD, anak-anak saya betah di sekolah. Karena lingkungan dan para pengajarnya memang child friendly. Salut sama guru-gurunya yang mampu mengajar dengan cara menyenangkan. Begitu masuk SMP, mereka suka ada malasnya. Karena sistem belajar mengajarnya yang jauh beda.

    Pendidikan informal juga penting. Dulu, anak-anak saya ikut Taekwondo dan belajar musik. Sekarang lagi berhenti dulu karena waktunya yang memang tidak ada

  12. Memang sistem pendidikan kita rada miris sih, belum lagi semua perjuangan sekian tahun akhirnya amblas cuma gara2 nilai UN semata hahaha. Sedih sih. Itu pun ternyata untuk masuk sekolah pun sekarang nilai UN gak ngaruh, karena mulai ada sistem zonasi. So whats the point gitu yah?
    *curhatan emak2 yang stres menghadapi PPDB online hahaha*

  13. Anak pertamaku baru akan masuk TK tahun ini, setahun ini memantau apa yang menjadi passion-nya dia. Semoga nanti dia bisa menikmati masa-masa belajarnya. Dan memang iya sih, aku dulu pun sempet mikir “kenapa ya kita gak belajar apa yang kita minati aja? karena semakin memaksakan belajar apa yang gak disukai, semakin tersiksa rasanya, haha”.

  14. Sempat terfikir juga untuk sekolahin anak secara informal, yang penting tujuan pendidikannya tercapai.
    Persoalan legalitas saya fikir bisa mengikuti semacam ijazah penyetaraan, tapi ini baru rencana karena anak masih belum usia sekolah

  15. Duhh mau tutup muka jadinya, aku tipe anak yg gak suka sekolah banget hikssss aku suka sekolah buat main sama teman2 aja. Apalagi aku ini gak demen banget belajar matematika. Ngebayangin guru matermatikanya itu udah bikin keringat dingin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.