Personal Branding Di Depan Allah

 

Mak, suatu hari saya membaca status dari seorang coach bisnis tentang branding diri atau istilah kerennya personal branding. Sebenarnya apa sih personal branding itu, Mak? Dan seberapa penting personal branding dalam kehidupan kita? Jawabannya: AMAT PENTING. Catet ya, Mak! Personal branding adalah kesan kuat yang melekat dalam diri seseorang. Misal ketika saya menyebut nama Dewa Eka Prayoga atau Indari Mastuti, kira-kira apa yang ada di benak Emak? Jika persepsi kita sama berarti bisa dipastikan kedua nama di atas memiliki personal branding yang kuat.

Bagaimanapun penilaian orang lain akan berdampak pada kehidupan kita. Jika Emak seorang pebisnis maka bisa berdampak pada penjualan. Jika Emak seorang profesional maka akan berdampak pada karier. Jeff Bezos mengatakan, “Your brand is what people say about you when you are not in the room.” Suer ini yang ngomong Jeff Bezos beneran, bukan saya. He..he..

Tahu enggak, Mak. Banyak perusahaan yang rela ngeluarin budget gila-gilaan hanya untuk memperkuat branding mereka. Sekelas Aqua aja yang brandingnya udah nancep banget di otak bahkan berani memasang tarif fantastis agar branding mereka sebagai air mineral ‘kelas atas’ bisa tetap terjaga.

Eits, tapi saya sedang tidak ingin ngomong tentang bisnis, penjualan, closing dan lain sebagainya. Saya ingin berbicara branding tapi bukan dalam konteks bisnis.

Seorang ustad entah siapa namanya dalam sebuah artikel menulis tentang hal ini. Bagaimana kita secara mati-matian berusaha memperkuat branding di depan manusia lain. Kita bersikap jaim. Kita tak malu berpura-pura menjadi manusia ‘sempurna’ saat berinteraksi dengan manusia lainnya. Apalagi di zaman medsos seperti sekarang. Kita begitu mudahnya memamerkan sisi-sisi terbaik kita. Namun pernahkah kita peduli bagaimana branding kita di depan Allah?

Setiap manusia pasti akan menemui-Nya. Lalu pernahkah kita berpikir bagaimana branding kita di depan-Nya? Kita ingin Allah mengenal kita sebagai apa? Sebagai ahli sedekah, Ahli puasa, ahli baca Qur’an ataukah ahli ghibah? Kita terlalu sibuk dengan branding di mata manusia. Padahal branding di depan Allah lebih penting.

Nabi Musa terkenal dengan brandingnya yang tegas dan tanpa kompromi. Nabi Ayub terkenal dengan brandingnya yang sabar luar biasa. Nabi Muhammad terkenal dengan brandingnya yang lemah lembut dan pemaaf. Padahal kita tahu semua nabi pasti tegas tanpa kompromi pada segala hal yang menyimpang, sabar, welas asih dan pemaaf pada sesama.

Branding adalah cap yang melekat pada diri kita. Sungguh menguntungkan jika cap itu adalah cap yang positif. Branding yang positif akan membuat kita mudah diterima di manapun. Efeknya, jika kebetulan Emak seorang pebisnis maka apapun yang dijual akan closing. Jika Emak seorang profesional, maka branding positif akan memperkuat posisi saat ini. Sebaliknya, jika branding yang melekat negatif maka takkan ada manusia yang mendekat pada kita.

Lalu pernahkah kita berpikir branding seperti apa yang paling tepat menggambarkan kita di depan-Nya? Positifkah? Atau negatifkah? Bagaimana jika suatu saat kita nanti kita menghadap-Nya tiba-tiba? Bukankah syarat mati tidak harus tua dan sakit? Sudahkah kita mempersiapkan branding yang terbaik di mata-Nya? Kira-kira dengan branding kita saat ini apakah kita mampu mengangkat dagu?

Ada banyak branding yang tawarkan Allah. Branding sebagai ahli sedekah, ahli puasa atau yang lainnya. Mak, kita adalah makluk lemah yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Amat sulit bagi kita untuk menjadi manusia sempurna di segenap sisi kehidupan kita. Karena itu pilihlah satu aktifitas ibadah yang paling anda sukai. Tentu tanpa melupakan ibadah yang lain. Lakukan pilihan Emak dengan konsisten. Amalan yang sedikit namun dilakukan terus menerus akan lebih baik daripada amalan besar tapi hanya sesekali. Jalan terus jangan kendor, Mak. Karena syaitan tidak akan rela. Jadikan aktifitas ibadah itu sebagai kebiasaan hidup kita. Ketika hal itu telah menjadi kebiasaan maka secara tidak langsung branding Emak akan terbentuk dengan sendirinya. Jadikan branding itu melekat kuat dalam pribadi kita. Agar sewaktu-waktu Ia memanggil kita, kita mendatanginya dengan branding yang kuat.

Nah, sekarang apakah Emak sudah mulai berpikir kira-kira branding apa yang ingin ditampilkan di hadapan-Nya kelak?

Note: Artikel ini pernah dimuat di portal Emakpintar.org

Profil penulis:

 Santi suhermina, owner Tas Lukis Aufasyandana, emak dari dua lelaki ini masih sibuk mencari branding diri. Ia bisa ditemui di facebooknya dengan nama yang sama. Aktifitasnya sehari-hari perempuan ini adalah menulis, melukis dan mengajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.