Alasan Kenapa Saya Enggan Ke Resto Atau Café Berdinding Kaca

 

Pernahkah kita berpikir, kekuatan sebuah tulisan ternyata mampu membuat pembacanya masuk ke dalam emosi yang tidak berbatas? Sebuah karya dapat membuat kita tetiba bahagia atau bahkan sedih seketika. Karya tulis juga mampu mengubah pandangan seseorang terhadap sesuatu. Begitu hebatnya  sebuah tulisan hingga ia bisa dimanfaatkan sebagai media perubahan.

Sebuah karya yang baik, terlepas fiksi atau non fiksi, adalah tulisan yang mampu membuat pembacanya tak berhenti berpikir meski bab penutup telah selesai dibaca. Efeknya, sebuah cerita bisa saja membuat seseorang terlibat dalam keterikatan emosi selama beberapa waktu. Ide itu menari-nari, mengelitik dan terasa menganggu. Seseorang baru bisa lepas dari ‘keterikatan’ tergantung pada seberapa besar pengaruh itu mencengkeram kepala dan hatinya.

Karya tulis yang baik semacam lalat penganggu bagi sapi yang lamban di otak kita.

Bayangkan, Jika saja lalat itu tidak datang, berdesing dan mengganggu sapi yang sedang tertidur di otak ini, mungkin kita akan merasa aman – aman saja di dunia. Namun kehadiran lalat dibutuhkan agar kita ‘terganggu’ sehingga membuat otak yang lamban ini tersugesti untuk berpikir lebih.

Kok tetiba saya ngomong masalah ini? Okey, lanjut.

Suatu ketika takdir mempertemukan saya dengan sebuah cerpen berjudul “Hotdog” entah karangan siapa, lupa. Saya memang agak payah dalam hal mengingat nama. Tolong bantu ingatkan jika Anda atau siapapun yang kebetulan pernah membacanya, tahu siapa nama pengarangnya. Caranya langsung saja ketik di kolom komentar di bawah tulisan ini. Iyess?

Kenapa nama ini begitu penting? Karena saya tahu banget menulis sastra itu tidak mudah apalagi karya yang mampu menimbulkan kesan mendalam. Butuh kapasitas dan kemampuan tingkat dewa agar tulisan bisa sampai masuk ke hati. Dan saya rasa sudah sepatutnya kita mengapresiasi nama pengarangnya, tidak hanya hasil karyanya saja.

Cerpen “Hotdog” adalah pemenang lomba yang diadakan salah satu koran terkemuka di Indonesia. Dan ternyata saya juga lupa nama koran apa itu. Ha..ha.. lihatlah, betapa parahnya short memory saya.

Oke, abaikan kalimat terakhir. Saya akan mengisahkan sedikit tentang cerpen ini.

Kisahnya berawal dari anak kecil yang ingin sekali memakan makanan yang dinamakan hotdog. Ayahnya seorang pengemis miskin sehingga tak mampu untuk membelikan makanan itu. Namun rupanya keinginan sang anak begitu kuat hingga terbawa mimpi. (Saya membayangkan orang ngidam ya kayak gini rasanya.)

Ayahnya tentu saja kebingungan. Namun ia berusaha memenuhi keinginan anaknya yang terlihat mustahil itu. Akhirnya di suatu kesempatan, saat berada di dekat sebuah restoran berdinding kaca (anaknya  sakit sehingga ditinggal di tempat penampungan), ia melihat seorang anak lelaki gemuk turun dari mobil mewah dan masuk ke restoran berdinding kaca. Mungkin seumuran anaknya. Dari balik dindingnya yang transparan, pengemis itu dapat melihat dengan jelas, anak lelaki kaya sedang memakan makanan yang belakangan diketahui ternyata bernama hotdog. Seketika pengemis teringat anaknya. Ia memandang anak kaya itu seperti kucing yang menanti tulang sisa tuannya dari balik jendela.

Rupanya si anak kaya itu tidak suka menghabiskan makanannya. Hotdog itu dibuang di tempat sampah begitu saja. Bagai mendapat durian runtuh, pengemis itu segera berlari menghampiri tempat sampah dan mengorek-korek isinya. Wajahnya terlihat bahagia menemukan hotdog yang sudah tak keruan bentuknya. Ia tak sabar ingin segera pulang dan memberikan hotdog itu pada anaknya yang terbaring sakit. Saking bahagianya, ia tak memperhatikan saat menyeberang di rel, ada kereta api lewat dan melindasnya.  Hotdog itu berhamburan di tengah jalan. Sementara anaknya yang lemah hanya bisa berbaring dan mengigau berulang-ulang, “Pak, hotdog, Pak. Hotdog”

Kisah itu sukses membuat saya pundung beberapa hari. Sejak membacanya, saya jadi tidak lagi bisa menikmati makanan di resto atau café yang berdinding kaca. Setiap kali saya memesan makanan di situ serasa ada rasa bersalah, takut jika ada orang yang kebetulan lewat dan melihat saya di dalamnya. Walaupun kenyataannya kadang orang lewat juga tidak peduli saya makan atau tidak. Bahkan mereka juga tidak peduli saya ada atau tidak.  Ha..ha..

Cerpen itu mengingatkan kita untuk peduli pada sesama. Dunia yang semakin egois terkadang tidak menyisakan ruang empati bagi para penghuninya. Kita bisa seenaknya saja makan di tempat umum tanpa memperhatikan orang-orang yang di sekitar kita.

Mungkin sebagian dari kita beranggapan makan di tempat seperti itu tidak ada masalah, toh kita tidak menganggu mereka. Toh itu uang kita. Siapapun berhak memakan apapun dan di manapun. Terserah mau dihabiskan di mana dengan siapa saja. Namun pernahkan kita berpikir, mungkin kita tanpa sadar telah mengganggu kehidupan orang lain. Ada orang yang diam-diam memperhatikan kita lalu tetiba muncul keinginan dalam dirinya sementara ia tak mampu memenuhinya.

Terkadang kita tidak menyadari efek dari sebuah perbuatan. Bisa jadi apa yang kita anggap sepele ternyata begitu berarti di mata orang lain. Mungkin bagi kita makan di resto seperti itu biasa aja, tapi bagi sebagian orang seperti merindukan menang arisan yang nggak kunjung datang. Ya, ampun.

Saya teringat salah satu hadist Nabi, yang kurang lebihnya menyuruh kita apabila memasak agar memperbanyak kuahnya untuk dibagikan pada tetangga. Jangan sampai tetangga hanya kebagian aromanya saja.

Setelahnya, saya mulai menghindari makan di resto atau café berdinding kaca. Namun, ada kalanya saya terpaksa datang ke resto semacam itu karena berhubungan dengan kerjaan. Kalaupun akhirnya saya tidak bisa menghindar makan dari tempat semacam itu, saya lebih memilih duduk membelakangi pintu atau ambil posisi di pojok sekalian. Intinya, bagaimana caranya agar saya tidak mudah terlihat dari luar saat sedang makan.  Ada kekhawatiran, mungkin saat sedang menikmati makanan ada seseorang yang tanpa disadari sedang mengamati dan diam-diam menginginkannya.

Ini juga akhirnya membuat saya agak hati-hati saat memposting foto makanan di medsos. Kecuali saya merasa yakin untuk mempostingnya. Bukan apa-apa, bisa jadi makanan itu akan mempengaruhi sisi psikologis seseorang. Gawat kan, misal pas lagi posting makanan ada ibu hamil lagi scroll medsos, eh nemu makanan yang kita foto. Trus makanan itu bikin dia ngidam. Iya kalo Pak Su bisa beliin, kalau enggak… Hadewww repot jadinya.

Secara saya ini emak-emak yang sensi banget kalo ngomongin ngidam. Kalo jomblo, mah.. he..he.. Saya sering sih nemuin orang ngidam gegara pengin makanan. Dan ngidam itu nggak enak banget kalau nggak keturutan. Bisa sampe nangis-nangis lho! Dududu..

Waduh, gimana ya caranya agar saya cepet move on dari kondisi ini? Nyatanya bayangan anak pengemis yang merintih sambil mengucap, “Hotdog, Pak. Hotdog.” benar-benar tidak mau hilang dari otak saya. Padahal sepertinya beberapa undangan makan gratis di resto sudah ketip-ketip menggoda iman. Belum lagi stok foto-foto makanan ‘rawan’ ngiler pas liburan kemarin udah numpuk, saatnya dibagi ke rumah besarnya Om Mark.

Maaf, jangan bilang, undangannya kasihkan saya aja, Mak. solusi yang tidak solutif itu, mah. Udah gitu aja.

Tulisan ini diikutsertakandalam ODOP bersama estrilook Community #Day1

baca juga http://www.santisuhermina.com/proyek kebaikan spontan

17 thoughts on “Alasan Kenapa Saya Enggan Ke Resto Atau Café Berdinding Kaca

  1. Wah ya juga sih… Ya klu mmg krn job hrs dtg di resto yg berdinding kaca mng lbh baik duduk membelakangi arah luar. Biar gk terlihat lalu lalang atau setuju duduk mojok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.