Onde-Onde, mengupas sejarah kehangatan cinta keluarga.

Waktu kecil saya sempat penasaran sama wijen yang nempel di onde-onde. Sampai seumuran SD tak pernah sekalipun saya melihat langsung orang bikin kue bulat ini. Ya ampun kemana aja saya cobaaaa?! Sempat terbesit tanya gimana ya cara nempelin wijennya? Butuh waktu berapa lama nempelin satu persatu sampe penuh kayak gitu? Trus nempelinnya gimana kok bisa lengket banget?  Naluri detektif saya seketika bikin Bapak, Ibu, Pakde dan Mbah Buyut ngakak sampai goyang-goyang perutnya.

 

Begitu punya anak, eh anak saya juga punya rasa penasaran yang sama. Ya ampun, yang namanya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Apalagi kayaknya dia juga kebingungan gimana caranya si kacang hijau bisa masuk ke dalam onde-onde. Padahal onde-ondenya nggak ada lubang sama sekali. He..he..

Sebagai  Milenials Mom (Ups!), sempat kepikiran gimana kalau saya tunjukin aja dia cara bikin onde-onde lewat you tube. Sekarang mah gampang. Apa-apa tinggal buka Mak Google. Putar you tube. Beres.

Tapi akhirnya pikiran itu buru-buru saya cancel, takut kalo acara nonton tutorial onde-onde malah belok arah ke plant and zombie. Hehe..

Kreatifitas zaman menuntun manusia untuk tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada. Hal ini ternyata berlaku juga di dunia onde-onde.  Yang namanya onde-onde, ternyata sudah melalui evolusi panjang yang yeahhh… walaupun bentuknya masih tetap bulat,  tetapi sudah sangat bervariasi, bukan hanya dari segi bentuknya tapi juga dari segi isinya. Di Malang, sebagai salah satu pusat kuliner, onde-onde masih menjadi pilihan jajanan yang recomended.  Kagak ada matinye. Everlasting lah pokoknya.

Para pegiat kuliner seakan gak pernah bosan bereksperimen dan terus mengeluarkan inovasi baru, bikin emak-emak kayak saya jadi suka ileran ngeliatnya. Untung badan saya kategori kran bocor. Diisi makanan berapa aja ya segitu-gitu aja. Sulit gemuk. Ada enaknya sih, ngirit baju. Tapi kasihan yang ngasih makan, orang jawa bilang, ora ngetok-ngetokne. Haish!

Oke, balik lagi ke onde-onde. Dari segi ukuran, kita bisa menemui onde-onde mini yang seukuran kelereng sampai yang besarnya seukuran bola takraw. Sementara varian isinya juga makin cihuy. Mulai dari kacang hijau (kalau ini kita nyebutnya onde-onde ori), matcha, mozzarella, cokelat, durian, keju, nanas dan lainnya.

Saat ini onde-onde tidak hanya memiliki permukaan berwarna kuning, ia bisa saja terbuat dari ketan hitam hingga warnanya ikut menjadi hitam. Bentuknya ada juga yang sengaja dibelah menjadi onde-onde ketawa. Ada juga yang kecil-kecil dan keras. Kita biasa menyebutnya keciput.

Setiap kali makan sesuatu saya seringkali penasaran bagaimana asal mula makanan itu tercipta. Saya tipe orang yang susah percaya jika makanan bisa tercipta ’kun fayakun’ begitu saja tanpa ada latar belakang yang menarik di dalamnya.

Begitupun onde-onde.

Tapi tenang saja, Emak nggak akan nemuin resep membuat onde-onde di blog ini, toh Emak bisa ngedapetin resepnya di mana aja. Saya cuma mau cerita makna filosofis dan cerita sejarah yang melatarbelakanginya.

Onde-onde pertama kali disajikan untuk para tukang batu dan tukang kayu yang sedang membangun istana kaisar Tiongkok pada masa dinasti Zhou, pada tahun sekitar 1045 – 256 SM. Ini artinya sudah 2300 tahun yang lalu onde-onde menjadi menu jajanan. Wow! Sejarah yang panjang ya.

Di Tiongkok sana, onde-onde merupakan salah satu sajian yang wajib ada dalam perayaan tahun baru. Jajanan ini memiliki makna khusus. Bentuknya yang bulat dengan warnanya yang kekuningan melambangkan keberuntungan dalam hidup. Sementara bentuknya yang mekar saat di goreng adalah harapan akan mekarnya usaha yang kita lakukan di tahun baru itu. Orang-orang tiongkok lebih suka pasta gula merah yang melambangkan manisnya kehidupan. Sehingga jika kita pergi ke tiongkok jangan harap akan menemui isi yang bervariasi seperti Indonesia. Mentok, onde-onde mereka hanya menggunakan kacang hijau sebagai variasi.

Onde-onde yang bulat juga melambangkan kebersamaan antar keluarga yang tidak akan pernah usai. Sementara bahan baku tepung ketan yang lengket melambangkan ikatan keluarga yang akan selalu ‘lengket’ terus. Rukun dan penuh kehangatan. Wah, saya jadi mellow ini. Jadi inget suami dan anak-anak, Mak.

Orang-orang tiongkok sering sekali apabila mereka memiliki keinginan, misal ingin menikah namun tidak kunjung menemukan jodoh, atau ingin punya anak namun merasa kesulitan maka mereka berdoa. Nah jika doa itu dikabulkan, mereka punya kebiasaan menyajikan onde-onde sebagai rasa syukur dan tekad yang bulat.

Kebalikannya, jika ada keluarga yang sakit atau bahkan meninggal dunia, mereka pantang membuat onde-onde. Ini adalah tradisi turun temurun yang mereka pegang erat selama ribuan tahun.

Oh ya, ada yang tahu kapan hari onde-onde?

Lho?! Emangnya ada?

Iya, ada.

Orang-orang chinese merayakan hari onde-onde setiap bulan Desember tanggal  22 mengikuti kalender Cina. Bersamaan dengan hari ibu sebentar lagi. Orang-orang chinese juga seringkali menyajikan ronde pada hari ini.  Itu lo yang bentuknya bulat kecil-kecil dikasih kuah gula merah. Sungguh lezat dimakan pas cuaca dingin seperti ini. Apalagi ada aroma jahe menguar membuat suasana menjadi hangat. Perayaan tradisional ini dinamakan ‘Dongzhi’ atau menyambut musim dingin sekitar tanggal 22 Desember. Ini artinya, perayaan makan onde-onde jatuh pada musim dingin yang akan berganti musim semi yang cerah dan penuh keceriaan.

Pada masa kekaisaran Dinasti Tang, onde-onde merupakan makanan yang istimewa. Bahkan saking istimewanya, Wang Fanzhi seorang sastrawan pada masa itu menyebut onde-onde dengan sebutan ludeui dalam tulisannya. Makanan ini terus bertahan, sampai  pada masa dinasti Ming, Laksamana Cheng Ho membawanya ke Indonesia. Ini terjadi sekitar tahun 1300 – 1500 M pada zaman kejayaan Majapahit. Namun pada masa itu, onde-onde hanya berisi pasta gula merah saja. Setelah masuk ke Indonesia mulai ada modifikasi dengan penambahan kacang hijau. Dan sekarang wuahhh… cem macem isinya. Ketahuan kan kalo bangsa Indonesia itu kreatif?

baca juga Asal Mula Rujak Cingur Dan Raja Firaun

 

21 thoughts on “Onde-Onde, mengupas sejarah kehangatan cinta keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.