Mengubah Sampah menjadi Rupiah

Selamat pagi, Mak! Udah bersih-bersih rumah pagi ini? Nah, kalo rumah udah bersih, anak-anak udah pada sekolah dan suami udah berangkat kerja, biasanya Emak ngapain nih? Kalo lagi gak ada kerjaan, ngobrol yuk di blog saya.

Tahu nggak,  mindset kita tentang sampah itu kayaknya harus diubah. Sedari dulu, kita kalo liat sampah tuh kayak musuh aja. Pokoknya sampah itu harus dibuang, dijauhin, disepak, biar jauh dari kehidupan kita. Nah, pemikiran kayak gini tuh gak betul, Mak.

What?! Masa sih?

Iyesss, yang namanya sampah itu gak harus dihindari, dijauhi atau dibuang lho.

Trus diapain?

Ya, dikelola. He..he..

Saya baru saja ikutan event  ADVOKASI PERAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN MELALUI PELATIHAN DAUR ULANG SAMPAH. Ih, panjang ya judulnya. Acaranya di Hotel Santika Premiere Kota Malang beberapa hari yang lalu. Ini yang bikin ibu-ibu kayak saya makin melek ngomongin sampah. Ternyata sampah bisa jadi duit lho.

Saya sempat heran waktu itu, event ini kok kebanyakan pesertanya perempuan ya. Ada sih bapak-bapak tapi jumlahnya seumprit. Kalah deh sama emak-emaknya. Padahal kalo ngomongin masalah sampah yaaa nggak harus liat jenis kelamin toh. Namanya laki-laki dan perempuan itu dua-duanya kudu peduli sama masalah yang satu ini. Tapi ternyata Emak jawaranya. Padahal nih bapak-bapak juga penting lho ikutan acara kayak gini. Tahu nggak kenapa? Soalnya, kalo di rumah siapa hayooo yang suka males mandi? Yang suka jorok? He..he..

Tapi emang ya, menurut Bu Niken Kiswandari, salah seorang staf deputi Kesetaraan gender dari KPPPA (Kementerian Pemberdayaan Pemberantas Perempuan dan Anak), kita nih sebagai perempuan punya tugas khusus sebagai agen perubahan yang berhubungan dengan aspek kelestarian hidup dan lingkungan di masyarakat. Kok bisa?

Gini, Mak

Yang namanya gender itu nggak melulu masalah laki-laki dan perempuan. Gender berhubungan sama yang namanya tanggung jawab dan kepedulian terhadap sekitar. Kita tahu jumlah perempuan hampir separo dari jumlah laki-laki. Dengan jumlah sebesar itu, peran perempuan tidak bisa dinafikan begitu saja. Perempuan menjadi salah satu tonggak penting dalam keluarga dan masyarakat. Sebagai sekolah pertama bagi anak-anak yang suatu saat menjadi pengubah peradaban yang lebih baik.

 

Terkadang seorang Emak memiliki beban ganda, mengurusi urusan domestik di rumah sekaligus bekerja di luar untuk membantu ekonomi keluarga.

Namun sayang, banyak keterbatasan yang membuat para perempuan ini sulit untuk berkembang. Sekarang ada banyak organisasi ataupun kegiatan di masyarakat yang memang mengkhususkan diri untuk mengajak para Emak berkembang bersama-sama.

Nah, event kemarin itu salah satu tujuannya adalah untuk mengembangkan daya kreativitas perempuan. Kita tahu, para Emak adalah makluk yang sangat sensitif kalo sudah ngomongin masalah sampah. Pengennya beberes rumah ajaaaa… he..he…

Nah, dalam Perpres No 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 disebutkan bahwa pemerintah telah memandatkan tiga strategi pengarusutamaan di dalam pembangunan nasional, yang salah satunya adalah Pengurusutamaan Gender (PUG). Tujuannya untuk mewujudkan pembangunan yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia baik perempuan, laki-laki, anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup, pengarusutamaan gender dapat diwujudkan antara lain dengan penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Payung hukum dari pemerintah ini bak gayung bersambut. Emak-emak yang ahli beberes dan suka sensitif kalo liat sampah langsung responsif dengan kegiatan-kegiatan semacam ini. Hingga tahun 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mencatat lebih dari 5000 bank sampah dengan jumlah anggota yang mencapai ratusan ribu, dimana 49% anggotanya adalah perempuan yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga.

Namun sayangnya, masih banyak PR yang harus diselesaikan. Metode manual dalam pengelolaan bank sampah menjadi hambatan yang menjadikan proses administrasi  di dinas kebersihan menjadi lambat.

Sesi selanjutnya diisi Pak Rahmat Hidayat selaku pengawas bank sampah Kota Malang. Pak Rahmat ini bahkan sempat studi banding ke Jepang cuma buat belajar pengelolaan sampah. Ternyata di sana, kesadaran masyarakatnya sudah tinggi. Bahkan, sampahnya saja di bagi menjadi dua puluh tujuh macam!

What?!

Iyes, dua puluh tujuh macam.

Wah, kalo kita tahunya yang tempat sampah di bagi menjadi tiga aja. Dinas kebersihan ini punya misi setidaknya mengurangi 30 persen jumlah sampah dengan memperdepankan peran masyarakat. Caranya adalah dengan 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace, Replant). Wow, apaan tuh?

Ini ya, Mak:

  1. Reduce (pengurangan), yaitu untuk mengurangi pemakaian suatu barang atau pola perilaku manusia yang dapat menambah produksi sampah. Selain itu, tidak melakukan pola konsumsi yang berlebihan. Nah, caranya kita bisa mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak  bisa di daur ulang.
  2. Reuse (penggunaan kembali, maksudnya kita menggunakan material atau bahan yang masih layak pakai untuk dapat dimanfaatkan kembali. Contohnya adalah menggunakan gelas plastik bekas untuk dibuat menjadi tas atau barang kerajinan lain yang bisa dimanfaatkan kembali.
  3. Recycle, adalah kegiatan mengolah kembali sampah sehingga dapat dimanfaatkan kembali. Seperti misalnya sampah yang berasal dari sayuran bisa dibuat menjadi kompos.
  4. Replace (penggantian), yaitu mengganti pemakaian suatu barang atau memakai barang alternatif yang sifatnya lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali. Misalnya tidak mengggunakan tisyu dan menggantinya dengan sapu tangan.
  5. Replant, (penanaman kembali). Kita biasa menyebutnya dengan reboisasi yaitu kegiatan menanam kembali hutan-hutan yang gundul demi kelestarian alam.

 

Berkaitan dengan itulah, perlu diadakan bank sampah. Saat ini, bank sampah di Malang sudah banyak. Anggotanya pun kebanyakan ibu-ibu, terutama ibu rumah tangga. Acara bersama Pak Rahmat ini diakhiri dengan sesi curhat dan tanya jawab ala emak-emak.

Materi selanjutnya dari Pak Rahmat Bayangkara dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Beliau ini membahas tentang aplikasi android berbasis sampah  yang diterapkan di Jakarta. Kami sempat diajari cara membuka dan menggunakan aplikasinya lho. Dengan aplikasi ini, truk sampah bisa langsung dikontak. Lalu dipasang GPS yang terkoneksi dengan playstore. Canggih Ya..

Pemateri terakhir adalah Bu Martha Simanjuntak, dari IWITA Jakarta. Tahu nggak, IWITA itu apa, Mak? IWITA itu Woman IT Awarness. Organisasi ini untuk membantu kaum perempuan agar lebih melek medsos. Tapi medsos untuk kegiatan yang positif dan menginspirasi ya.

Nah di sesi ini kita diajarin branding. Intinya, perempuan tuh harus bisa branding.

Lho..lho abis ngomongin sampah kok ngomongin branding, Nggak nyambung ih.

Nyambung, mak. Kalo saya bilang sampah yang dikumpulin para ibu itu di olah kembali menjadi barang-barang cantik dan kreatif. Hasilnya bisa dijual. Harganya nggak murah lho. Tas yang difoto ini berasal dari gelas plastik bekas. Dijual lagi dengan harga Rp 150K. Cantik tasnya ya.

Nggak cuma tas. Para ibu-ibu dari bank sampah itu juga membuat banyak produk dari sampah. Termasuk botol, baju, jaket, dan bunga. Macam-macem dah.

Nah, masalahnya kalo barang-barang cantik ini dibiarin begitu saja kan sayang, Mak. Makanya syukur-syukur bisa dijual bisa bisa membantu ekonomi keluarga. Nah, untuk menjual itu  butuh ilmu branding. Di sinilah Bu Martha yang cantik nerangin segalanya tentang cara-cara menjual produk di era digital. Emak-emak zaman milenial kalo jualan itu udah merambah ke dunia online. Zaman sekarang kalo kita nggak memanfaatkan media sosial wah rugi banget ya.

Bu Martha menjelaskan pentingnya branding, packaging, dan teknik foto produk yang benar. Sini, tak bocorin materinya dikit ya. Biar Emak juga ketularan pinter jualan.

Untuk menciptakan branding ada beberapa komponen penting.

Catet ya!

Agar sebuah produk dapat diterima pasar, maka usaha tersebut membutuhkan branding strategi.

  1. Strategi branding yang teruji dengan baik akan berdampak pula pada semua aspek bisnis. Ini yang nantinya akan terhubung langsung dengan kebutuhan konsumen.
  2. Setiap brandpasti memiliki visi dan tujuan yang akan dicapai.
  3. Konsistensi, ini berhubungan dengan brand awarenessyang akan berdampak pada loyalitas pelanggan.
  4. Emosi, tak sedikit dari konsumen yang lebih mengutamakan emosi, terutama kaum emak nih. Pastikan strategi  baru diciptakan untuk dapat membuat konsumen terlibat pada akhirnya.
  5. Fleksibilitas akan menjadi saran yang utama saat menyusun strategi branding.
  6. Keterlibatan karyawan. Agar strategi yang Anda terapkan dapat terlaksana, pastikan seluruh

karyawan mengetahui caranya  mereka harus bekerja.

  1. Loyalitas adalah komponen penting dalam kesuksesan strategi branding sebagai faktor mendukung peningkatan penjualan.
  2. Kesadaran akan kompetensi. Selalu mempelajari strategi yang digunakan oleh kompetitor.

Udah paham, Mak. Kalo udah, sekarang kita membahas topik baru yaitu tentang packaging atau pengemasan produk.

Packaging produk yang bagus dapat menarik perhatian para konsumen. Kita aja beli sesuatu pasti yang dilihat pertama kali adalah kemasannya.  Intinya, packaging bagaimanakah yang menarik di mata konsumen? Proses packaging produk harus memperhatikan hal-hal di bawah ini:

  1. Jenis Warna Dasar

Menggunakan warna dasar semenarik mungkin dan lebih mencerminkan dari produk yang dijual. Akan tetapi, sebaiknya hindari warna yang terlalu mencolok.

  1. Ciri Khas

Hal itu akan dapat semakin menambah kesan yang lebih positif bagi para konsumen terhadap

produk yang kita pasarkan.

  1. Informasi Produk

Packaging yang baik secara langsung akan memberikan informasi yang berhubungan dengan

jenis produk yang ada di dalamnya. Jangan sampai kemasannya gambar biskuit tapi isinya rengginang.

  1. Kesan yang positif

Selain harus mampu dalam memberikan kenyamanan bagi para konsumen, proses packaging akan menjadi jauh lebih baik apabila mampu memberikan kesan positif bagi para konsumen.

  1. Memiliki Kekuatan       

Sebuah proses packaging juga harus memiliki kekuatan dalam memberikan stimulan bagi para konsumen.

 

Jika masalah packaging sudah beres, kita beralih ke topik yang nggak kalah pentingnya. Yaitu foto produk. Ya iyalah, kita kan mau jualan di medsos, orang cuma liat foto doang. Nggak bisa liat langsung pegang-pegang barangnya kayak di toko tradisional. Karena itu, foto harus terlihat ciamik.

Ini lho, hal-hal yang harus emak kuasai kalo mau serius jualan di medsos.

  1. Lighting adalah hal paling penting dalam fotografi produk. Dasar-dasar pencahayaan dan pemilihan background yang tepat dapat mempercantik objek.

Foto produk sangat mementingkan detail dan ketajaman, setiap warna

dan tekstur dari produk harus bisa ditampilkan dengan tepat. Warna harus terlihat

sesuai aslinya dengan tekstur  yang detail dan tajam.

 

  1. Angle adalah sudut pengambilan gambar. Ini adalah momen cara-cara seorang fotografer

menempatkan kamera di depan produk untuk mengambil foto. Setiap produk memiliki bentuk yang berbeda-beda. Misal bulat, lebar panjang, dan lainnya. Jika salah dalam melakukan sudut pengambilan gambar, hal tersebut bisa menyebabkan objek produk menjadi tampak kurang cantik. Sebagai fotografer, harus

mengetahui sudut pengambilan yang terbaik untuk setiap objek berbeda.

 

Hal yang harus kita perhatikan saat mulai promosi di medsos, catet juga ya.

 

  1. Membangun kredibilitas. Jika Emak telah menentukan satu media sosial yang efektif sebagai tempat pemasaran produk, saatnya membangun kredibilitas produk. Tahap awal yang bisa dilakukan adalah mencoba membangun brand awareness. Tahap ini, Emak harus menjelaskan identitas produk yang Emak jual tersebut. Baik dari segi produk, kegunaan produk, serta produk Anda tawarkan untuk siapa.
  2. Fokus pada target. Kesalahan yang paling sering terjadi saat mulai berpromosi adalah mengincar seluruh orang. Inilah kesalahan terbesar, Emak bisa memilih orang-orang yang memang menjadi target saja. Tak perlu mengincar orang yang tidak tertarik dengan produk, karena hal tersebut hanya akan membuat Anda membuang-buang tenaga saja. Fokuslah pada konsumen yang memang membutuhkan produk kita.
  3. Membangun relasi di media sosial. Dalam dunia sosial media, membangun koneksi sangatlah penting.Tidak dapat dibantah lagi jika aktif dalam memanfaatkan jejaring social, nanti kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang. Dalam memaksimalkan bisnis, maka tambah dan perluaslah relasi Emak.
  4. Memperhitungkan waktu dan uang. Cara mudah untuk tetap pada tujuan sosial media Anda antara lain menjabarkan tujuan. Membuat rencana secara jelas dapat membuat kita tidak salah dalam menentukan strategi,  bersikap  objektif, dan taktik. Jangan lupa, untuk mengatur deadline dari tujuan yang dapat dicapai secara realistis.
  5. Meniru cara promosi milenial, dengan cara:
  • Tidak Mempercayai Iklan Biasa

Kaum millennial sulit percaya pada informasi yang bersifat satu arah. Mereka lebih mempertimbangkan review atau testimoni yang dilakukan orang-orang di internet.

  • Memasarkan via Media Sosial

Mereka lebih suka mencari informasi lewat smartphone-nya, baik dengan mencarinya di situs pencari atau menggunakan media sosial yang dimiliki. Kini, tidak sedikit perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan media sosial untuk memberikan info dan promosi bagi calon pelanggannya.

  • Format Iklan yang Digemari

Banner dan pop-up keberadaannya semakin memudar karena kaum millennial menganggapnya cukup mengganggu. Oleh karena itu, saat ini penyajiannya pun dibuat layaknya iklan yang bercerita, seperti film singkat yang kini jadi favorit anak muda. Eh, Emak juga suka lho.

  • Singkat dan Informatif

Untuk menarik perhatian kaum millennial, produk yang dipromosikan harus memiliki iklan yang singkat, menarik, dan padat dengan informasi. Mereka termasuk yang malas membaca sehingga sajikan artikel dengan informasi yang dibuat semenarik mungkin, tapi tetap autentik.

Waah, ilmunya banyak banget ya. Perempuan memang harus mengenal potensi dirinya dan harus berani tampil untuk saling menginspirasi. Seperti yang menjadi jargon dari IWITA  bahwa perempuan harus melek teknologi.

Sehabis acara, Ibu-ibu diajak presentasi sekalian memasarkan produknya di akun serempakid. Wah, asyik lho soalnya bisa langsung jualan di sana. Pada sesi presentasi, setiap kelompok dari bank sampah harus mengisi kolom yang bertuliskan  peluang, tantangan,  dan harapan ke depan. Mereka beradu strategi, visi dan misi ke depan. Pemenangnya adalah komunitas bank sampah Eltari Cemoro kandang. Ssst … hadiahnya sesuatu banget lho dari Bu Martha.

Udah ya, Mak. Capek saya ngetik terus. Tak kasih foto-fotonya aja ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “Mengubah Sampah menjadi Rupiah

  1. Jadi perempuan itu harus kreatif mulai dari pemilihan sampah organik, sampah non organik dan sampah basah. Kita sangat berterima kasih atas Permen LH No.13 Tahun 2012 tentang pedoman Pelaksanaan 3R melalui Bank Sampah. Jadi para UMKM bisa memulai usahanya dengan menggunakan bahan baku daur ulang sampah

  2. Bener banget, Mbak. Kalo sampah diolah, dia tidak lagi menjadi sesuatu yg menjijikkan, malah menjanjikan. Lingkungan bersih, rupiah pun mengalir berkat tangan2 rajin dan terampil. Emak2 memang harus siap siaga menjadi pejuang lingkungan. Yuk, Mari! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.