Mengapa Emak Harus Tetap Berkarya Walau Cuma Di Rumah Aja?

Mak, tahu nggak, perempuan itu makhluk multitasking yang bisa menyelesaikan banyak pekerjaan di waktu yang bersamaan. Pernah masak sambil beberes dapur? Atau nyuapin si kecil sambil nyapu? Halaaah, semua emak-emak pasti udah pernah ngalamin yang begituan. Kecuali yang punya asisten 13 orang kayak Nia Ramadhani sono. He..he..

Nggak cuma fisiknya aja yang dianugerahin multitasking, ternyata para emak ini juga bisa memikirkan banyak hal di waktu yang bersamaan. Ngomongin resep mie ayam eh, langsung deh kepikiran arisan. Ngomongin arisan eh, malah kepikiran renovasi rumah. Adaa ajaaa yang diomongin kalo ngobrol bareng emak-emak ini. Mereka bisa membicarakan banyak hal tanpa harus kehilangan fokus. Seandainya kepala para emak ini dibedah, mungkin isinya ruwet kayak bakmi. Saat nyendok mie, pasti adaa ajaa mie lain yang nyangkut di ujungnya. Saat ngomongin blog, eh jadi kepikiran gimana ya cara ngedapetin duit. Ups! (sambil tutup muka pake panci). Saat seorang emak bicara tentang satu topik bisa saja pikirannya lari kemana – mana. Betul apa betul? Eh, saya kok jadi kepikiran mas Ippho santosa, ya. Haish!

Multitasking sebenarnya menguntungkan lho, karena ketika dituntut banyak tugas, para emak bisa menyelesaikan semuanya dengan sempurna di waktu yang bersamaan. Nah, masalahnya kebiasaan emak yang suka mengerjakan banyak hal ini mulai sedikit berkurang saat anak – anak mulai besar dan sudah punya kegiatan sendiri. Kondisi ini terkadang membuat para emak galau. Galau bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena bingung mau ngerjain apa lagi. Lha gimana lagi coba, anak-anak sekolah fullday sementara suami pulang sore. Nah, si Emak yang terbiasa menggunakan jurus multitasking mulai mencari-cari kesibukan baru nih.

Awas, Emak dilarang galau, ya! Soalnya galau itu bisa menular ke anggota keluarga yang lain, lho. Supaya tidak galau, keseharian emak harus tetap diisi dengan berbagai macam aktifitas agar tetap eksis di dunia ini. Eits, jangan salah paham dengan kata eksistensi ini, ya Mak. Eksis tidak selalu berkonotasi egois.  Duniapelajar.com dalam artikelnya menyatakan jika eksistensi adalah pembuktian diri bahwa pekerjaan yang dilakukan dapat berguna dan mendapat nilai yang baik. Setiap manusia butuh ini agar tetap bisa ‘hidup’.

Hal ini penting terutama buat para emak yang memilih menjadi fulltime mom. Tahu kan, kalo emak type ini rentan mengalami kejenuhan karena kegiatan monoton dan itu – itu saja. Tetap berkarya akan mempertajam skill multitasking mereka. Bayangin, di saat lagi nggendong dan menyusui si kecil, para emak masih bisa pegang spatula buat nggoreng bakwan, sekaligus ngomongin soal bisnis online terbaru. Di sini nih si Emak bakal merasakan kemampuan yang tak terbatas. You’ll surprise yourself, Mak. Asyiik!

Nah, di sisi lain ada juga lho emak yang memutuskan untuk tetap berkarier. Jangan khawatir para emak ini akan lupa tugas utamanya sebagai ratu di rumah. Ngurusin anak dan suami tetap menjadi prioritas utama. Banyak emak dengan kemampuan multitaskingnya ternyata mampu sukses di karier maupun rumah tangganya. Salut! Pengen deh yang kayak gini.

Tapi kita juga tidak boleh nyinyir dengan para emak yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja. Karena pada dasarnya para emak ini masih menggunakan insting multitaskingnya untuk mengurus rumah tangga yang memang tidak ada habisnya. Berkarya tidak selalu berkorelasi dengan karier. Penting ini. Catet ya!

Banyak juga para emak yang memutuskan tinggal di rumah namun ternyata tetap mampu eksis di lingkungannya. Emak – emak ini aktif di pengajian, posyandu, pelatihan di balai desa dan lain sebagainya. Nah, sekarang jelas kan yang namanya eksis tidak selalu berkarier? Apalagi yang sampai menomorduakan keluarga. Waduh, jangan sampai ya, Mak!

Intinya baik berkarya di rumah maupun di luar rumah, seorang emak selalu bisa memanfaatkan bakat multitaskingnya untuk tetap eksis di ’dunia’nya.

Jika kemampuan multitasking para emak ini tidak terfasilitasi, misal ketika ingin berkarya namun tidak didukung oleh keluarga, Si Emak bisa mengalami depresi dan hilang rasa percaya dirinya. Terbukti lho para emak yang mendapat dukungan dari keluarga, hidupnya jauh lebih bahagia.

So, jika kebetulan Emak tipe fulltime mom ada banyak cara agar emak tetap bisa eksis selain berkarier. Salah satunya, Emak bisa mengikuti kegiatan – kegiatan yang biasa dilakukan di lingkungan sekitar Emak sendiri.

Yang kedua, Emak juga bisa mencoba resep – resep masakan baru. Kemampuan Emak dalam menciptakan kreasi-kreasi baru pasti akan membuat suami dan si kecil merasa Emak adalah perempuan yang paling disayang di antara mereka. Waaah, I love you, Mak.

Selain itu Emak juga bisa mengusulkan rekreasi ke suatu tempat di mana Emak yang mengatur segalanya. Biarkan mereka tahu, Emak adalah perempuan serba bisa yang mengagumkan.  Ada banyak cara, Mak. Yang penting kita harus kreatif menciptakan suasana-suasana yang mampu memfasilitasi kemampuan multitasking kita.

Nah, sekarang saatnya Emak memikirkan apa nih yang akan kita lakukan setelah ini?  Kalo saya sudah ketemu jawabannya, Mak. Njemur baju sambil ngapalin resep rendang paling kontemporer. Itu lho, kayak di gambar yang aye posting di atas. Sengaja tak posting gambar masakan, walaupun asline gak nyambung sama postingan. Harap maklum. Ini sebagai mood boster buat saya suka mood-moodan biar semakin semangat ngapalinne. Mirip-mirip teriyaki hot spicy-nya Hokben tempo hari lah. Maklum, tiap hari raya kurban saya selalu pake bumbu instan mulu. Kali ini saya pengen tampil beda pokoknya. He..he.. minta doanya semoga cepet apal ya, Maaak!

 

Edisi idul adha sambil mikir menu  kambing

8 thoughts on “Mengapa Emak Harus Tetap Berkarya Walau Cuma Di Rumah Aja?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.